Waspadai Kejadian Luar Biasa (KLB) DIFTERI

December 15, 2017

 

Saat ini berjangkit penyakit difteri di sejumlah provinsi di Indonesia. Penyakit Difteri sangat menular sehingga dapat menyebar dengan cepat serta dapat menyebabkan KEMATIAN bagi penderitanya.   Penyakit Difteri dapat muncul tanpa terbatas musim tertentu.

 

Menurut  WHO tercatat  7.097 kasus Difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus Difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus Difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita Difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi Difteri yang lengkap.

 

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sampai November 2017 sebanyak 20 provinsi melaporkan kasus Difteri. Sementara pada kurun waktu Oktober-November 2017, Kemenkes mencatat ada 11 provinsi yang melaporkan terjadinya kejadian luar biasa (KLB) Difteri di wilayah kabupaten/kotanya. Kesebelas provinsi itu yakni Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur. Jawa Timur disebutkan menempati provinsi paling banyak kasus Difteri, diikuti DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. 

 

Hingga November 2017, terdapat 20 provinsi yang telah melaporkan adanya Difteri dengan 593 kasus dan 32 kematian. Angka kematian akibat penyakit Difteri bertambah, sepanjang bulan Desember saja, 6 orang telah meninggal akibat bakteri yang menyerang saluran pernapasan bagian atas itu. Jumlah kematian akibat Difteri meningkat menjadi 38 orang.

 

Direktur Surveilans dan Karantina Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi, mengatakan, hingga Senin, 11 Desember 2017, ada lebih dari 600 laporan pasien Difteri dirawat di 20 provinsi. Jumlah ini masih bisa terus bertambah.

 

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Mohamad Subuh, mengatakan, Difteri yang terjadi pada tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari umur pengidap Difteri yang tak berhenti pada usia anak. Umur penderita Difteri yang termuda berusia 3,5 tahun dan yang tertua berusia 45 tahun.

 

Jawa Timur menjadi salah satu provinsi terparah dalam kasus Difteri. Sepanjang bulan ini saja, Dinas Kesehatan Provinsi merawat 62 pasien Difteri, satu di antaranya meninggal. Jumlah ini meningkat dari 265 kasus Difteri sepanjang Januari-November 2017 dengan 11 kematian. “Temuan terbanyak ada di Kabupaten Pasuruan,” kata Kepala Dinas Kesehatan, Kohar Hari Santoso.

 

Jawa Barat, hingga awal Desember ini, ada 141 pasien Difteri di provinsi tersebut. Sebanyak 14 di antaranya meninggal dunia. Jumlah ini meningkat dari 10 korban sepanjang Januari-November 2017. Provinsi Jabar menargetkan 3,6 juta anak sudah diimunisasi ulang hingga akhir tahun. “Program imunisasi dilakukan di pos pelayanan terpadu, pusat kesehatan masyarakat, dan di sekolah-sekolah,” kata Kepala Seksi Surveilans dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Jawa Barat, Yus Ruseno.

 

Di Kabupaten Tangerang, kejadian luar biasa (KLB) Difteri telah memakan 2 korban, dari 30 pasien yang dirawat di RSUD Kabupaten Tangerang sepanjang Agustus-November 2017.

 

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto mengaku belasan warga ibu kota terserang difteri sepanjang tahun 2017. Namun, dia mengatakan semua kasus yang terjadi tak ada yang sampai berakibat fatal. "Saya lupa angka pastinya, kurang lebih 15 (orang) selama 2017," kata dia saat dihubungi Republika.co.id.

 

 

 

MENGENAL DIFTERI

Difteri adalah penyakit menular akibat bakteri Corynebacterium Diptheriae. Difteri  mudah sekali menular melalui batuk atau bersin. Difteri dapat menyerang orang yang tidak mempunyai kekebalan terutama anak-anak. Difteri bisa menyerang bayi, anak-anak, dan paling banyak balita dan usia sekolah,  remaja maupun dewasa.  Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari.

Berikut ada gejala Difteri :

  1. Demam yang tidak begitu tinggi (38 derajat celsius)

  2. Nafsu makan turun, lemas dan lesu

  3. Muncul pseudomembran (selaput yang berwarna putih keabu-abu) di tenggorokan yang mudah berdarah jika di angkat

  4. Nyeri menelan dan nyeri tenggorokan

  5. Suara serak

  6. Terkadang disertai pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembengkakan jaringan lunak leher yang disebut bullneck.

  7. Pada beberapa kasus dapat disertai sesak napas dan  suara mengorok.

  8. Dalam tahap lanjut, Difteri bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal dan sistem saraf. Kondisi seperti itu pada akhirnya bisa berakibat sangat fatal dan berujung pada kematian. 

PENULARAN DIFTERI

Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti:

 

  1. Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.

  2. Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.

  3. Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat Difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

 

PENCEGAHAN DIFTERI

Penyakit Difteri dapat di cegah dengan melakukan imunisasi sesuai jadwal yang telah di rekomendasikan oleh Kementrian Kesehatan atau Ikatan Dokter Anak Indonesia. Imunisasi Difteri  adalah perlindungan terbaik terhadap kemungkinan tertular penyakit Difteri.

 

Kemenkes memberikan ORI ( Outbreak Response Immunization ) mulai hari Senin 11 Desember 2017 di tiga provinsi, Dki Jakarta, Jawa Barat dan Banten. 


Oscar Primadi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes mengatakan ketiga provinsi itu menjadi yang pertama mendapatkan pelaksanaan ORI, dari sebelas provinsi yang melaporkan kejadian luar biasa (KLB) difteri. Pemberian imunisasi dijadwalkan berkala selama tiga kali, yakni pada 11 Desember 2017, 11 Januari 2018 dan 11 Juli 2018 untuk anak-anak usia 1 sampai kurang dari 19 tahun. 

Segera periksakan ke pelayanan kesehatan terdekat apabila mengalami gejala-gejala tersebut diatas atau ada riwayat kontak dengan penderita Difteri karena semakin cepat ditangani semakin besar kemungkinan selamat.


Prepared by:  dr Novie Hediyani, MKK

 

 

 

SUMBER :

 

  • https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3755691/jabar-tetapkan-status-klb-wabah-difteri

  • http://www.bbc.com/indonesia/majalah-42215042

  • http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/17/12/03/p0e4qv384-15-warga-dki-terserang-difteri-selama-2017

  • https://emedicine.medscape.com/article/782051-overview

  • https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/dip.pdf

  • FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERAN AKTIF KADER DALAM PENJARINGAN KASUS PROBABLE DIFTERI Factors related to the active role of the volunteer in the crawl probable case of diphteriae Riza Alfi na1, Muhammad Atoillah Isfandiari2 1 FKM UA, rizaalfi na@gmail.com 2 Departemen Epidemiologi FKM UA, ato_epid@yahoo.co.id Alamat Korespondensi: Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia

  • https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171208035427-255-260967/10-hal-yang-patut-diketahui-seputar-wabah-difteri/

  • https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171207221215-255-260950/wabah-difteri-kemenkes-prioritaskan-imunisasi-di-3-provinsi/

  • http://sains.kompas.com/read/2017/12/07/080900823/kemenkes--difteri-tahun-ini-luar-biasa

  • https://nasional.tempo.co/read/1041461/6-orang-meninggal-akibat-difteri-selama-desember-2017

  • https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Dirty_white_pseudomembrane_classically_seen_in_diphtheria_2013-07-06_11-07.jpg

Please reload

Please reload

Cari di Arsip dokterkuonline:

Baca Artikel Lain:

Please reload

  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Google+ Social Icon
  • Pinterest Social Icon
  • Instagram Social Icon
dokterku online sehat dengan cara pintar
dokterku online sehat dengan cara pintar
dokterku online sehat dengan cara pintar
dokterku online sehat dengan cara pintar

© dokterkuonline - 2014, Partnership, Sponsorship, & Advertisement : dokterkuonline@gmail.com   designed by Kimpoel's Creative Community

  • w-facebook
  • Twitter Clean
  • w-googleplus