Waspada Bahaya MIRAS Oplosan



Penyalahgunaan minuman keras (miras) saat ini merupakan permasalahan yang cukup berkembang karena menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Tak sedikit korban berjatuhan setelah menegak minuman keras (miras) oplosan, Dalam beberapa tahun belakangan ini banyak korban dilaporkan mengeluhkan gangguan kesehatan seperti sakit dada atau sesak nafas bahkan sampai berujung kematian setelah minum miras oplosan.


Data pada Desember 2014 di Sumedang dilaporkan korban meninggal 25 orang dari 127 peminum miras oplosan. Dilaporkan juga di Jogjakarta, miras oplosan merenggut 24 nyawa dimana mayoritas korban merupakan mahasiswa di Jogjakarta.Maraknya kebiasaan minuman keras banyak dikonsumsi oleh masyarakat di beberapa wilayah di Indonesia, hingga kini semakin meresahkan dengan munculnya fenomena miras oplosan yang telah merenggut banyak korban.


Alasan penggunaan minuman keras di ungkapkan oleh Fuhrmann (1990) bahwa penyebab penyalahgunaan obat dan minuman keras di bagi dalam 2 kelompok besar yaitu determinan sosial (pengaruh keluarga seperti kurangnya pengawasan orang tua, afiliasi religius, pengaruh teman sebaya dan pengaruh teman sekolah) dan determinan personal (rendah diri, rasa ingin memberontak, dorongan untuk berpetualang, dorongan impulsif, rasa ingin bebas dan kepercayaan diri yang rendah). Selain itu mengkonsumsi alkohol atau minuman keras merupakan perilaku yang biasa dilakukan oleh sekelompok orang dalam mengekspresikan suatu acara, misalnya dalam pesta atau pertemuan tertentu. Ironisnya miras tersebut tidak hanya dikonsumsi oleh orang dewasa, tetapi juga oleh kaum remaja.


Dampak Negatif

Dampak minuman keras oplosan tidak hanya berpengaruh buruk terhadap peminumnya namun juga beresiko terhadap orang lain di sekitar peminum, karena seseorang yang berada di bawah pengaruh miras sangat rentan untuk melakukan berbagai tindakan kejahatan atau kriminal. Rendahnya kesadaran masyarakat akan bahaya miras oplosan tersebut mendorong timbulnya gaya hidup negatif ini.


Salah satu studi mengindikasikan bahwa 58 persen tindak kekerasan, perkosaan, dan pembunuhan terjadi di bawah pengaruh miras. Di beberapa negara maju kecelakaan di bawah pengaruh miras (termasuk di dalamnya kecelakaan lalu lintas) menempati urutan ke-4 terbesar setelah penyakit jantung koroner, kanker dan gangguan jiwa.


Data mengenai dampak miras terhadap peningkatan kejahatan di Indonesia belum sepenuhnya banyak diketahui. Namun demikian, sejumlah data dari beberapa daerah sedikit banyak dapat membantu. Pada tahun 2013, penelitian Gerakan Nasional Anti-Miras (GeNam) menemukan bahwa empat persen kejahatan di Jakarta sepanjang tahun tersebut dilatarbelakangi oleh konsumsi miras. Dalam tulisannya, Kandow (2013), mengutip data Satuan Resnarkoba Polres Blitar, menegaskan bahwa Polres tersebut telah menangani 226 kasus kejahatan miras pada tahun 2012. Angka ini menunjukkan peningkatan dari tahun 2011 yang hanya 178 kasus