Waspadai Kejadian Luar Biasa (KLB) DIFTERI


Saat ini berjangkit penyakit difteri di sejumlah provinsi di Indonesia. Penyakit Difteri sangat menular sehingga dapat menyebar dengan cepat serta dapat menyebabkan KEMATIAN bagi penderitanya. Penyakit Difteri dapat muncul tanpa terbatas musim tertentu.


Menurut WHO tercatat 7.097 kasus Difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus Difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus Difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita Difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi Difteri yang lengkap.


Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sampai November 2017 sebanyak 20 provinsi melaporkan kasus Difteri. Sementara pada kurun waktu Oktober-November 2017, Kemenkes mencatat ada 11 provinsi yang melaporkan terjadinya kejadian luar biasa (KLB) Difteri di wilayah kabupaten/kotanya. Kesebelas provinsi itu yakni Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur. Jawa Timur disebutkan menempati provinsi paling banyak kasus Difteri, diikuti DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten.


Hingga November 2017, terdapat 20 provinsi yang telah melaporkan adanya Difteri dengan 593 kasus dan 32 kematian. Angka kematian akibat penyakit Difteri bertambah, sepanjang bulan Desember saja, 6 orang telah meninggal akibat bakteri yang menyerang saluran pernapasan bagian atas itu. Jumlah kematian akibat Difteri meningkat menjadi 38 orang.


Direktur Surveilans dan Karantina Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi, mengatakan, hingga Senin, 11 Desember 2017, ada lebih dari 600 laporan pasien Difteri dirawat di 20 provinsi. Jumlah ini masih bisa terus bertambah.


Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Mohamad Subuh, mengatakan, Difteri yang terjadi pada tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari umur pengidap Difteri yang tak berhenti pada usia anak. Umur penderita Difteri yang termuda berusia 3,5 tahun dan yang tertua berusia 45 tahun.


Jawa Timur menjadi salah satu provinsi t